Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Friday, February 25, 2011

MERAH DI TENGAH PUTIH

BRUKK…
Aku menghempaskan tubuhku di atas spring-bedku yang empuk. Ah… nyaman sekali. Ingin rasanya aku langsung tidur saja, tanpa berganti pakaian.
Aku baru saja pulang dari acara reunian SMA. Aku bertemu kawan-kawan lama dan saling bercerita. Nostalgia, gitu! Baru lima tahun kami tidak bertemu, ternyata sudah banyak yang berubah. Yang dulunya gemuk, jadi kurus, sedangkan yang kurus, jadi gemuk. Wajah kami juga tampak semakin tua. Aku ingin tertawa jika mengingatnya. Ada juga yang sudah menikah, bahkan sudah punya anak. Tapi aku sendiri tak banyak berubah. Sampai saat ini aku masih sendiri. Aku menghabiskan waktu dengan bekerja dan bekerja. Orang tuaku terus memaksaku untuk menikah karena usiaku sudah cukup matang untuk mengarungi bahtera rumah tangga, tetapi aku merasa hatiku telah beku, tidak bisa menerima kehangatan cinta dari pria manapun. Bukan berarti aku tidak tertarik pada pria. Aku pernah jatuh cinta, dan sampai sekarang aku masih mencintainya.
Rasa kantukku tiba-tiba hilang karena aku teringat akan wajah seseorang yang pernah mengisi ruang hatiku dan sampai kini belum tergantikan. Aku bangun, menuju meja kerjaku dan duduk di kursinya. Tanganku meraih sekuntum bunga mawar berwarna merah yang terselip di tengah-tengah kumpulan mawar putih yang telah kurangkai dan kutata rapi dalam vas bunga yang terletak di sudut meja kerjaku.
Aku tenggelam dalam masa laluku, sepuluh tahun silam…
***
Udara pagi di kota Malang sangat segar dan adem. Embun masih menetes dari daun hijau. Namun kesejukan itu tidak bisa kunikmati, karena aku sedang ngos-ngosan berlari menuju sekolah. Hari ini masih dalam masa-masa orientasi siswa baru di SMA, dan aku terlambat bangun. Alarm yang kupasang tidak mau membangunkanku.
“Mawar, sarapan dulu!” panggil Mamaku dari arah dapur sebelum aku berangkat.
“Nggak sempat, Ma, aku sudah terlambat. Aku berangkat dulu ya!” seruku sambil mengenakan sepatu dengan asal-asalan.
“Mawar, tunggu!” panggil Mamaku lagi.
“Aduh, apa lagi, Ma?” tanyaku dengan gemas.
“Bunga mawarnya kok nggak dibawa? Katanya hari ini harus bawa bunga.” Mama menenteng sebuah pot berisi mawar putih.
Aku menepuk jidatku. ”Oh, iya. Makasih, Ma. Aku berangkat dulu, ya.”
“Hati-hati!” seru Mama ketika aku sudah berlari melewati pagar rumah.
Hari ini aku dan siswa baru lainnya memang disuruh oleh kakak-kakak kelas untuk membawa bunga apa saja untuk ditanam di sekolah. Aku membawa bunga mawar putih kesukaanku. namun ketika aku hendak menyeberang jalan, tiba-tiba sebuah sepeda motor menyerempetku hingga aku terjatuh. Pengendara sepeda motor itu tidak menolongku dan meminta maaf, malah kabur.
“Hei, sialan lo!” makiku.
Lututku terluka dan pot bungaku pecah. Mawar kesayanganku itu terinjak oleh ban sepeda motor sialan tadi. Tak terasa air mataku meluncur. Perasaanku bercampur aduk antara kesal, jengkel, kesakitan karena terluka, sedih karena bungaku terinjak, dan takut dimarahi oleh kakak kelas.
Sementara aku menangis, sebuah tangan terjulur padaku. Aku mendongakkan kepala dan melihat seorang cowok berseragam SMA dengan tampang imut dan rambut klimis tersenyum padaku.
“Ayo berdiri. Masa kamu mau duduk di aspal selamanya?” kata cowok itu.
Aku meraih tangannya dan berdiri sambil mengibas-ibaskan rokku. Cowok itu mengusap air mataku dengan saputangannya. Ia memapahku untuk duduk di sebuah halte dan mengeluarkan kotak P3K. Ia membersihkan lukaku dan menutupnya dengan plester.
“Sudah merasa lebih baik?”
“Terima kasih.”
“Tapi wajahmu masih terlihat sedih, kenapa?”
“Bungaku rusak, padahal aku lagi orientasi dan harus membawa bunga.”
“Oh, kamu anak SMA Kusuma Bangsa, ya? Aku juga murid baru di sana. Kamu ambil aja bungaku, nih.” Cowok itu menyodorkan sebuah pot bunga yang berisi sekuntum bunga mawar putih.
“Nggak, ah, kamu kan juga butuh. Nanti kamu dimarahi kalau tidak membawa.”
“Nggak apa-apa. Kamu kan lagi kena musibah, kalau masih harus dimarahi lagi, aku merasa kasihan. Aku ikhlas membantu kamu kok. Ayo kita berangkat ke sekolah, udah telat, nih.”
Cowok itu memberikan bunganya dan menggandeng tanganku menuju sekolah. Setelah sampai di sekolah, seperti dugaanku, ia dimarahi oleh kakak kelas karena tidak membawa bunga. Aku merasa sangat bersalah. Ketika pulang sekolah, aku mencarinya dan mendapatinya sedang nongkrong di kantin.
“Hei, maafkan aku, ya. Kamu jadi dimarahi gara-gara aku.”
“Nggak usah merasa bersalah gitu, aku nggak apa-apa, kok. Omelannya kakak-kakak itu nggak usah diambil pusing. Mereka itu cuma akting, biar kita takut sama mereka. Oh, ya, dari tadi kita belum kenalan, ya. Namaku Nathan. Joenathan.” Cowok itu menyodorkan tangannya.
“Namaku Mawar.” Aku menyambut tangan Nathan.
Nathan mengulum senyumnya. “Nama kamu unik. Pasti mama kamu suka bunga mawar.”
“Iya, aku juga suka bunga mawar, apalagi mawar putih.”
“Gimana kalau aku memberimu sekuntum mawar putih tiap hari?”
“Maksudnya?”
Nathan tidak menjawab. Ia hanya mengulum senyum, senyum yang manis.
***
“Selamat pagi, Mawarku tersayang…” sapa Nathan dari balik jendela kelas.
“Nathan?! Ngapain kamu nongol di situ? Kenapa nggak masuk aja ke kelasku seperti biasa?” tanyaku sambil terus menyalin pe-er matematika dari buku Renatha.
“Khusus hari ini kukirimkan sekuntum mawar putih kesukaanmu dari jendela kaca.” Ia menyodorkan sekuntum mawar putih kepadaku.
“Kok sekarang lewat jendela?” Aku mengambil mawar itu dari tangan Nathan dan memasukkannya ke laci meja.
“Biar kayak Romeo en Juliet, gitu!”
“Kamu ini ada-ada aja, deh.”
Kami tertawa renyah. Bel masuk pun berbunyi.
“Karena bel telah berbunyi, inilah waktunya untuk berpisah. Namun tak akan lama, karena setelah bel istirahat berbunyi, aku akan segera berlari meninggalkan kelasku untuk menjumpai mawarku. Da…”
Renatha yang duduk di sebelahku dari tadi cekikikan melihat adegan “Romeo en Juliet” yang terlalu maksa itu.
“War, cowok lo aneh banget, deh! Norak abis, sok puitis, sok romantis, padahal tampangnya nggak jauh beda ama teletubies,” ledeknya.
“Ala… kalo iri bilang aja, jangan menghina gitu, dong! Lo pasti pengen juga kan punya pacar yang romantis kayak pacar gue? Makanya cari pacar dong, jangan jomblo melulu, entar jadi perawan tua, loh.”
“Gue? Pengen punya pacar kayak Nathan? Idih… sori ye, kagak level. Eh, gue penasaran, kok dia bisa kasih lo bunga terus tiap hari? Bunga dari mana tuh? Jangan-jangan dia nyuri bunga tetangga.”
“Sembarangan! Bunga itu dia tanam sendiri di belakang rumahnya. Karena dia tau gue suka mawar putih, dia petikin buat gue tiap hari.”
“Apa nggak rugi tuh? Kan sayang banget, udah capek-capek di tanam, dikasih ke elo. Kalo gue jadi dia, mending tuh bunga gue jual.”
Aku hanya bisa mengangkat bahu. Percakapan kami terhenti karena guru matematika kami sudah nongol di depan kelas.
Nathan adalah pacar dan cinta pertamaku. Ia memang nggak terlalu cakep, nggak tenar dan nggak pintar. Dia juga rada norak dan agak bolot dikit. Tapi menurutku, Nathan adalah cowok terbaik dari segala kaum adam yang kukenal. Senyum yang ramah, mata yang selalu memancarkan kasih dan kata-kata yang diucapkannya selalu sopan. Ia juga romantis dan puitis, tapi nggak mirip teletubies seperti yang dikatakan Renatha tadi. Sembarangan aja dia itu!
Sejak pertemuan kami waktu orientasi siswa itu, kami bersahabat baik. Lama kelamaan, tumbuh bunga cinta di antara kami. Tiga bulan yang lalu, ia menembakku di bawah sinar rembulan purnama dan memberiku sekuntum mawar putih yang sangat indah. Dari awal jadian sampai sekarang, setiap hari Nathan mengirimi aku bunga mawar putih. Aku enggak tahu apa maksudnya yang sebenarnya dengan memberiku bunga itu. Saat ini sudah terkumpul sembilan puluh sembilan kuntum mawar putih. Bunga-bunga itu kumasukkan ke dalam vas bening yang berisi air agar tetap segar seperti cinta kami yang akan selalu segar dan abadi selamanya. Amin…
***
“Than, kok kamu tiap hari ngirimi aku mawar putih?” tanyaku ketika kami sedang asyik makan di kantin sekolah.
“Nggak ada maksud apa-apa, kok. Aku cuma pengen ngasih aja. Kamu nggak suka?” Ia menyeruput es jeruk favoritnya.
“Bukannya nggak suka. Aku suka kok, tapi kamu kan udah capek-capek tanam, masa dipetik gitu aja?”
“Nggak apa-apa, lagi. Asal kamu senang. Hehe…”
“Ehm… ngomong-ngomong, sudah berapa tangkai yang kuberikan?” tanyanya lagi.
“Sembilan puluh sembilan.”
Ia mengangguk-angguk, lalu menggenggam jemariku, “Aku janji, aku akan memberimu mawar putih yang ke seratus, mawar yang paling indah. Mawar special di hari yang special. Kamu tunggu aja entar malam.”
“Entar malam? Maksudnya?”
“Ah… pokoknya liat aja nanti. Surprise…”
“Apa sih? Kasih tahu, dong… penasaran, nih.”
“Kalo di kasih tahu sekarang bukan surprise namanya. Kamu tunggu aja, ya.” Matanya menerawang, “Mungkin itu mawar terakhir yang akan kuberikan.”
“Kamu bilang apa?” Aku kurang mendengar kalimat terakhirnya, karena ia berbicara seperti sedang berbisik.
“Ah, nggak. Aku nggak bilang apa-apa kok. Eh, udah masuk deh kayaknya. Balik ke kelas, yuk.”
Kami berjalan beriringan menuju kelasku. Ia terus menggenggam tanganku, seperti tak rela melepaskan. Entah mengapa, aku merasa ia akan pergi jauh. Tapi buru-buru aku menepis segala pikiran jelek itu. Mungkin ini hanya perasaanku saja.
***
Angin malam ini bertiup sangat kencang sekali. Langit gelap tak berhias bintang. Hanya cahaya temaram bulan sabit yang menerangi kegelapan malam.
Saat aku masih terbuai dalam mimpi, aku terjaga karena mendengar suara ketukan di jendela kamarku. Aku membuka jendela itu. Angin malam menerpa wajahku dan menusuk sampai ke tulang. Seseorang berdiri di luar sana. Ia mendekat ke arahku.
“Mawar,” ucapnya datar.
“Nathan?” Aku mengenal suara itu, “Ngapain kamu berdiri di luar? Ayo masuk. Cuaca di luar sepertinya buruk.”
Ia tak menggubris ucapanku. Ia menyodorkan bunga mawar kepadaku. Aku mengambil bunga itu dari tangannya. Tetapi bukan mawar putih yang ia berikan, melainkan mawar merah.
“Maaf, aku tak bisa memberikan mawar putih yang ke seratus itu. Mawar putih terindah itu kini sudah menjadi merah.”
“Maksudnya?” Aku tak mengerti apa yang diucapkannya.
“Selamat ulang tahun.” Ia menyunggingkan senyum.
Senyum itu lain dari biasanya. Bukan senyum teduh seperti yang biasa ia lemparkan padaku. Sekilas aku melihat wajahnya tampak pucat. Aku melihat ke arah jam dinding. Pukul 12 malam tepat. Besok memang hari ulang tahunku. Mungkinkah mawar ini hadiah ulang tahun darinya? Apa ini yang dimaksudnya sebagai surprise?
“Than, masuk, yuk. Kamu kayaknya kedinginan, deh. Wajahmu pucat. Kamu sakit?”
Ia tak menjawab dan tak beranjak dari tempatnya berdiri. Ia tak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya tersenyum. Nathan yang kulihat malam ini tampak aneh. Tiba-tiba aku merasa bulu kudukku berdiri. Perasaanku tak enak.
Tok…tok…tok…
Pintu kamarku di ketuk. Setelah kubuka pintu kamarku, ternyata Mama. Mama juga tampak pucat.
“Ada apa, Ma? Kok pucat gitu?”
“Tadi ada telepon dari ayahnya Nathan. Katanya, Nathan berniat ke sini untuk memberimu kejutan. Tapi di perjalanan, motor yang dikendarainya mengalami kecelakaan dan sekarang… Nathan sudah meninggal.”
“APA?! Nggak mungkin, Ma. Nathan ada di sini. Dia ada di luar. Tadi kami baru aja ngobrol di…”
Waktu aku melihat ke arah jendela, Nathan sudah tidak ada. Aku berlari ke jendela dan menengok ke luar, tak ada siapa-siapa di luar sana. Aku berlari ke luar rumah dan memanggil namanya berkali-kali, tapi ia tak muncul juga. Perasaanku benar-benar tak enak.
***
Aku berdiri mematung di depan kamar di sebuah rumah sakit. Mawar merah itu masih kugenggam erat. Perlahan kubuka pintu kamar itu dan masuk. Terbaring seseorang dengan selimut putih yang menutupi wajahnya. Kubuka perlahan selimut itu dengan tangan gemetar. Ternyata benar, yang terbaring di atas sana adalah Nathan!
Lututku lemas. Aku hampir tak mempercayai akan apa yang kualami malam ini. Tadi jelas-jelas Nathan muncul di luar jendela kamarku dan memberiku mawar merah. Tapi sekarang ia terbaring tanpa nyawa di ranjang ini. Apa maksud semua ini? Apakah mungkin yang menemuiku tadi dan memberiku bunga mawar merah adalah rohnya?
Aku memperhatikan mawar merah yang ada dalam genggamanku. Setelah kuperhatikan baik-baik, ternyata itu adalah mawar putih yang menjadi merah karena lumuran darah. Darah Nathan.
***
Aku tersentak. Rupanya aku tertidur di atas meja belajarku sambil menggenggam bunga mawar merah itu, mawar putih yang menjadi merah.
Terdengar suara ayam berkokok. Hari sudah pagi. Aku melihat jam dindingku menunjukkan pukul 6.30. Wah, aku telat! Aku harus bergegas ke kantor. Hari ini ada rapat dan aku harus mempresentasikan inovasi produk yang telah kurancang. Segera aku beranjak dari kursiku dengan tubuh yang masih pegal dan bersiap untuk mandi.
Ops… aku kelupaan sesuatu. Mawar merah itu ternyata masih kugenggam. Kuletakkan kembali bunga mawar merah itu di dalam vas, di tengah mawar putih lainnya.

 THE END

KAMU NGGAK SENDIRIAN

Adira merasa ibunya sangat aneh hari ini. Ia mengajak Adira jalan-jalan, makan di restoran mahal, dan membelikan banyak baju. Awalnya Adira mengira ibunya baru saja mendapatkan lotre atau arisan, sehingga Adira tidak terlalu memikirkannya. Namun keesokan harinya, gadis yang baru menginjak SMP itu akhirnya mengerti, mengapa kemarin ibunya melakukan semua itu…
***
            Seorang gadis SMA berambut ikal sedang berdiri didepan sekolah menunggu jemputannya. Wajahnya pasti akan tampak lebih manis jika ia tidak sedang manyun sekarang. Beberapa kali ia melihat jam sambil berdecak kesal. Jari-jarinya yang ramping mengipas-ngipas wajahnya karena kegerahan di bawah terik matahari yang menyengat.
“Adira!” Gadis itu menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. Tampak seorang gadis cantik yang memakai seragam sekolah yang sama berlari mendekatinya.
“Dir, lo lagi nunggu jemputan ya?” tanya gadis cantik tadi.
“Iya, nih, kayaknya supir gue telat nih jemputnya. Sebel, deh!” Adira mengomel.
“Gimana kalau lo ikut gue aja?”
Belum sempat menjawab, tangan Adira sudah ditarik oleh gadis cantik berwajah oriental itu dan masuk ke dalam mobil Honda CRV berwarna hitam yang sudah dinyalakan mesinnya oleh seorang cowok blasteran yang tampan.
“Dir, lo nggak lagi buru-buru kan?”
“Nggak, emang kenapa?”
“Lo kan baru pindah ke Jakarta, jadi gue dan pacar gue mau ngajak lo jalan-jalan bentar, gimana?”
“Ehm… boleh, deh.”
“Ok, Let’s go!”
Sudah seminggu ini Adira sekolah di SMA Jakarta. Ia pindahan dari Bandung. Cewek yang mengajaknya jalan-jalan itu bernama Angelia, anak pemilik SMA Jakarta. Ia cantik, pintar, popoler, dan pastinya kaya raya. Sementara cowok yang sedang menyetir mobil adalah Anthony, pacar Angelia yang juga kaya dan populer di sekolah. Hm… pasangan yang serasi.
Sesampainya di sebuah café yang terlihat berkelas, ternyata ada beberapa teman-teman sekelas Adira sudah menunggu di dalam café itu. Ada, Stephany, Sophie, Dennis, serta si kembar Danille dan Daniel. Setelah memesan minum, mereka mengobrol dan kebanyakan bahan pembicaraan mereka mengarah ke Adira.
“Dir, kalo boleh tahu, bokap lo kerja apa?” tanya Danille sambil memainkan sedotan.
“Ngapain lo nanya-nanya kerjaan bokapnya? Kayak calon mertua nanya ke calon mantu aja lo,” ejek Sophie.
“Gue kan cuma pengen tau aja, emang nggak boleh?”
“Ayah, eh, papaku itu direktur sebuah bank. Sekarang dipindahtugaskan di sini. Makanya gue juga ikutan pindah ke sini,” jelas Adira.
“Oh… gitu, kalo nyokap?” tanya Daniel.
“Nyokap gue…” Mata Adira sedikit menerawang dan wajahnya berubah murung.
“Nyokap lo kenapa, Dir?” tanya Stephany.
“Nggak apa-apa, nyokap gue punya bisnis butik online gitu.”
“Rumah lo di mana, Dir?” tanya Dennis.
“Kenapa? Mau ngapelin ya?” goda Anthony.
“Ehm… rumah gue… rumah gue di… di daerah Pondok Indah,” kata Adira sedikit terbata-bata.
“Wow, itu kan perumahan orang kaya,” celetuk Sophie.
“Gimana kalau pulang dari sini kita main ke rumah lo? Boleh nggak?” tanya Danille.
“Nggak boleh.”
“Loh, emangnya kenapa?” tanya Stephany.
Adira buru-buru meralat kata-katanya, “Eh, maksud gue nggak bisa sekarang karena hari ini nyokap ada arisan.”
“Eh, udahan, ah, interogasinya. Ayo kita ke mall aja, di sana ada baju-baju baru dari luar negeri, loh,” ajak Angelia.
“Ah, yang bener, An? Ayo buruan ke sana, ntar keburu abis lagi.” Stephany menenteng tas dan beranjak pergi diikuti oleh cewek-cewek yang lain.
“Huh, dasar cewek. Dari pada ngikutin mereka belanja gila-gilaan, mending kita jalan sendiri aja, yuk,” ajak Anthony.
“Ayo. Hoi, nanti kalo udah puas belanja, sms aja, nanti kami jemput,” seru Dennis pada teman-teman ceweknya yang entah didengar atau tidak karena mereka sudah menjauh.
Tak terasa hari sudah mulai malam. Setelah puas berbelanja, Adira dan kawan-kawan perempuannya menunggu para cowok di depan mall. Mereka nongkrong sebentar kemudian berpisah untuk pulang masing-masing ke rumah. Angelia dan Anthony mengantar Adira pulang.
 “Dir, ini sudah di Pondok Indah, loh. Rumah lo yang mana?” tanya Anthony.
Adira yang baru sadar kalau mereka sudah sampai di daerah Pondok Indah, tampak terkejut dan bingung. Dilihatnya sebuah rumah mewah yang tampak sepi.
“Ehm, rumah gue yang itu, yang pagernya putih.”
Mobil Anthony berhenti di depan rumah itu dan Adira segera turun.
“Makasih, ya.”
“Sama-sama. Kami tinggal, ya. Da…” Angelia melambaikan tangan.
Setelah mobil Honda CRV itu berlalu, Adira tidak masuk ke rumah putih itu, melainkan berjalan ke sebuah gang kecil dan masuk ke sebuah rumah kecil berwarna hijau. Di ruang tamu, duduk seorang bapak-bapak yang sedang merokok.
“Adira, kamu dari mana saja? Kenapa malam begini baru pulang?” tanya bapak itu.
“Jalan sama temen,” kata Adira cuek sambil melepas sepatu ketsnya.
“Kenapa nggak bilang dulu sama Ayah? Tadi Ayah nungguin kamu di sekolah, ternyata kamu sudah tidak ada. Ayah khawatir karena kata orang di Jakarta rawan kejahatan. Ayah takut kamu kenapa-napa, Nak.”
“Siapa suruh telat jemput.” Adira masuk ke kamar dan membanting pintu.
Tingkahnya ini membuat Ayah Adira mengurut dada. Ayahnya merasa bersalah. Andai ia orang kaya, pasti istrinya tidak akan meninggalkannya dan putri semata wayangnya itu. Lima tahun yang lalu, Ayah dan Ibu Adira bercerai karena Ibu Adira tidak tahan hidup miskin bersama suaminya yang hanya bekerja sebagai pemulung di Bandung. Kemudian ia memilih untuk menikah dengan seorang duda tua bangka yang kaya raya. Sejak saat itu Adira menjadi anak yang pemurung dan berkepribadian keras.
Kini Ayah Adira mendapatkan pekerjaan di Jakarta sebagai seorang supir di sebuah keluarga kaya. Berkat kebaikan majikannya, Adira bisa sekolah di SMA yang elit dan mahal. Semuanya dibiayai oleh majikannya yang baik hati.
Jadi, Adira yang sesungguhnya bukanlah orang kaya seperti yang dikira Angelia dan teman-teman lainnya. Tidak ada yang tahu kalau ia hanya mengaku-ngaku sebagai anak orang kaya, karena setiap hari ia ke sekolah dengan penampilan yang meyakinkan dan selalu diantar jemput dengan mobil BMW yang sebenarnya adalah milik majikan ayahnya. Kebaikan majikan ayahnya telah disalahgunakan oleh Adira. Ia menjadi sombong, sok kaya, dan bergaya hidup mewah.
***
Pepatah berkata, Sepintar-pintarnya orang menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga baunya. Rahasia Adira mengenai jati diri aslinya yang telah sebulan disembunyikannya, akhirnya terbongkar juga. Semua itu berawal dari kedatangan beberapa siswa SMA dari Bandung ke SMA Jakarta untuk melakukan studi banding pada hari ini.
Setelah bunyi bel istirahat pertama, seperti biasanya, Adira, Angelia, Danille dan Stephany serta teman-teman lainnya menyerbu kantin sekolah. Saat itu, siswa SMA dari Bandung kebetulan juga sedang makan di kantin.
“Adira!” panggil seorang cewek dari SMA Bandung sambil melambai-lambaikan tangan dengan semangat.
Wajah Adira mendadak pucat ketika dipanggil oleh gadis itu. Ia kenal cewek itu. Namanya Marini, teman SMA Adira waktu di Bandung. Selain Marini, ada juga beberapa teman lamanya, yaitu Dadang, Maman, dan Cici. Adira pura-pura tidak mendengar, namun Marini dan teman-teman lamanya datang menghampirinya. Adira jadi gelagapan.
“Hai, Dir, ternyata kamu sekolah di sini, ya,” sapa Marini.
“Kalian saling kenal?” tanya Stephany, teman Angelia.
“Iya…” Belum selesai Marini bicara, Adira langsung memotongnya, “Nggak, gue nggak kenal mereka.”
“Loh, Dir, maksud kamu apa? Masa kamu lupa sama kami, teman lamamu di Bandung dulu?” tanya Dadang sedikit emosi karena Adira sok nggak kenal.
“Aduh, ini udah biasa, ada orang yang sok kenal. Maklumlah, gue di Bandung emang cukup terkenal,” kata Adira sambil mengibas rambut ikalnya.
Tiba-tiba Cici menyiram Adira dengan es teh yang ada di meja kantin dan membuat Adira basah kuyup. Adira menjerit sambil mengibas-ibaskan kemejanya yang basah.
“Ternyata benar yang dikatakan orang-orang, kalau kamu itu sekarang sombong dan sok kaya. Padahal kamu itu cuma anak orang miskin!” bentak Cici sambil mendorong tubuh Adira kemudian menjambak rambut Adira.
“Eh, tunggu, jangan berantem. Ini ada apa sebenarnya? Kalian siapa?” Angelia melerai mereka.
“Kami ini teman-teman lamanya Adira waktu dia masih sekolah di Bandung. Kami tahu semuanya tentang dia. Asal kalian tahu aja, ya, Adira ini sebenarnya bukan orang kaya seperti yang kalian pikirkan. Di Bandung dulu ayahnya cuma seorang pemulung dan orang tuanya sudah cerai karena ibunya kawin dengan duda kaya,” Maman menjelaskan.
“Loh, bukannya kata Adira, papanya itu direktur bank dan mamanya punya butik online? Dia ke sekolah juga selalu pakai mobil mewah. Kalo orang miskin, nggak mungkin punya mobil mewah, kan?” tanya Stephany.
“Paling itu mobil majikannya. Aku dengar ayahnya sekarang bekerja sebagai supir. Majikannya yang menyekolahkan dia di SMA elit seperti ini. Dasar orang yang tidak tahu berterima kasih. Kamu itu sudah bagus bisa disekolahkan di sini, jangan kebanyakan gaya. Orang miskin ngaku-ngaku orang kaya,” omel Marini.
“Ya, ampun. Apa benar semua ini, Dir?” tanya Danille dengan wajah tak percaya.
Adira yang merasa dipermalukan hanya bisa menangis dan berlari keluar dari kantin, keluar dari gedung sekolah. Ia terus berlari tanpa mempedulikan Angelia yang memanggil dan mengejarnya.
***
Adira berdiri di tengah taman dengan hamparan rumput dan bunga yang berwarna-warni. Ia melihat kerumunan orang yang sedang bercanda tawa di bawah sebuah pohon besar. Mereka adalah Angelia dan teman-teman lainnya. Adira berlari mendekati mereka.
“Halo semuanya…” sapa Adira.
 Teman-temannya hanya menatapnya sambil mengerutkan kening.
“Lo kenal?” tanya Stephany pada Angelia.
“Nggak kenal, tuh,” kata Angelia.
“Loh, kalian kenapa, sih? Ah, kalian lagi bercanda, kan? Kita kan teman.”
“Eh, sorry, ya, kami nggak punya teman yang miskin dan tukang bohong kayak lo! Ngakunya orang kaya, padahal cuma anak pemulung,” bentak Danille.
Adira hanya bisa terpaku. Perlahan-lahan bayangan teman-teman barunya itu memudar dan digantikan oleh wajah-wajah teman lamanya yang berteriak memakinya. Adira tak tahan dan menutup telinga dengan kedua tangannya. Ia ingin berteriak, tetapi suaranya tertahan di tenggorokannya. Ia ingin menangis, tetapi air matanya tak bisa keluar.
Tiba-tiba semuanya hilang dan ia kini berdiri di tengah padang pasir yang terik. Ia melihat seorang wanita berdiri di ujung gurun. Adira berlari dan terus berlari. Semakin dekat, semakin ia mengenal wajah wanita itu.
“Ibu...” gumam Adira.
Ya, wanita itu adalah ibu Adira yang sedang merentangkan tangan. Adira berlari ingin memeluk ibunya, namun tubuh ibu semakin menjauh dan akhirnya hilang tak terjangkau.
“Ibuuu…” teriak Adira.
“Adira, tenang, Sayang.” Ayah Adira menenangkannya sambil memeluk dan mengusap-usap punggungnya.
Adira baru sadar bahwa ia baru saja terbangun dari mimpi buruknya. Mimpi yang sangat buruk. Semua orang meninggalkannya. Teman-temannya, bahkan ibunya. Ia merasa sendirian.
***
Di sebuah rumah yang mewah, tepatnya di dalam kamar yang bernuansa pink dan wangi,  beberapa cewek yang sedang berdiskusi.
“Teman-teman, nggak seharusnya kita membenci Adira. Dia melakukan hal itu pasti ada alasannya,” kata Angelia.
“Nggak bisa, An, gue ini paling benci sama orang yang ngesok. Sok pinter, sok kaya…” omel Danille sambil memukul-mukul bantal, membayangkan kalau bantal itu adalah wajah Adira.
“Tapi Angelia benar juga, Dan. Setiap orang pasti pernah berbuat salah. Kasihan dia, kemarin pasti dia malu banget, makanya hari ini dia nggak masuk sekolah,” kata Stephany.
“Yah, semoga saja kejadian kemarin membuat dia kapok dan nggak mengulangi perbuatannya lagi. Gimana kalau sekarang kita jengukin dia?” usul Sophie.
“Hm… ide bagus. Kita bujuk dia supaya mau sekolah lagi,” kata Stephany.
“Tapi kita, kan, nggak tahu rumahnya. Rumah yang dia tunjukkin sama aku dulu ternyata rumah orang,” kata Angelia.
“Kita ke bagian kesiswaan aja, pasti ada data tentang Adira, kan?” Danille mengusulkan.
“Wah, bener juga lo. Kadang-kadang lo pinter juga, ya,” goda Sophie.
“Baru tahu, ya? Haha…” Danille ge-er.
Keesokan harinya, setelah mendapatkan alamat asli Adira, sepulang sekolah mereka bertamu di rumah Adira. Mereka disambut hangat oleh ayah Adira, namun Adira tidak mau keluar dari kamar walaupun sudah dibujuk oleh ayahnya.
“Maaf, ya, dari kemarin Adira nggak mau keluar kamar, nggak mau sekolah, nggak mau makan,” kata ayah Adira dengan wajah yang sedih.
“Om, boleh nggak kami masuk ke kamar Adira? Sapa tahu kami bisa membujuk dia,” pinta Angelia meminta izin.
“Oh, boleh. Silahkan.” Ayah Adira mempersilahkan mereka masuk ke kamar Adira.
Kamar itu kecil, lebih kecil dari kamar mandi Angelia. Di dalamnya hanya ada lemari kecil dan kasur kapuk yang tergeletak di lantai tanpa ranjang. Adira sedang meringkuk di kasur itu.
“Dir…” panggil Angelia sambil menepuk bahu gadis itu.
“Mau apa kalian ke sini? Mau ngetawain aku, ya? Nggak apa-apa, ketawa aja. Rumahku kecil, jelek, seperti kandang ayam. Atau mau mengasihani aku?”
“Nggak, Dir, kami ke sini mau ngajakin kamu untuk ngajak kamu ke sekolah lagi,” kata Stephany.
“Percuma kalian bujuk, aku nggak akan pergi lagi ke sekolah. Aku malu.”
“Kamu nggak perlu malu, Dir. Aku sudah menjelaskan kepada teman-teman yang lain kalau kamu pasti punya alasan kenapa berbuat seperti itu. Kami semua memaafkan kamu dan tetap mau menjadi temanmu,” jelas Angelia.
Adira menoleh. Wajahnya tampak kusut dan matanya bengkak.
“Kalian nggak marah? Nggak benci sama aku?”
Angelia dan lainnya menggeleng. Bibir Adira menyunggingkan senyuman.
“Teman-teman, maafin aku, ya. Aku cuma nggak mau sendirian. Selama ini aku merasa takut dikucilkan karena aku miskin, apalagi aku sekolah di sekolahnya orang-orang kaya. Ibuku saja meninggalkan aku karena tidak suka hidup miskin. Aku merasa sendiri…”
Angelia memeluk Adira, “Dir, kamu nggak boleh merasa begitu. Mulai sekarang kamu nggak akan merasa sendirian lagi, karena ada aku, Stephany, Sophie, Danille, dan teman-teman lainnya, akan selalu ada untuk kamu. Dan ada satu lagi, Dir, Ayah kamu. Beliau nggak pernah ninggalin kamu, kan, selama ini.”
Adira melihat ayahnya yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya. Adira melompat dari tempat tidur dan memeluk ayahnya sambil terisak. “Ayah, maafkan Adira. Selama ini Adira membuat Ayah sedih dan kecewa. Adira janji nggak jahat lagi sama Ayah. Aku sayang Ayah.”
“Iya, sayang, Ayah sudah memaafkanmu sejak dulu.” Ayah mengusap punggung Adira.
Adira melepas pelukannya dari tubuh Ayahnya kemudian memeluk teman-temannya, “Makasih, ya… aku senang banget punya teman kayak kalian.”
“Kalo gitu lo besok ke sekolah lagi, kan?” tanya Danille.
Adira mengangguk. Ia bahagia sekarang karena ia tidak lagi merasa sendirian. Ada teman-teman yang mau menerima dia apa adanya. Dan juga ada Ayah yang tidak akan pernah meninggalkannya selamanya.
THE END

PACAR SEHARI


Hari ini adalah hari yang udah aku tunggu dari dulu. Aku bakal kencan sama Rey, penyanyi yang lagi naik daun itu. Sebenarnya sih, bukan kencan sungguhan. Aku ikutan acara TV reality show ‘Pacar Sehari’. Dan aku kebagian jalan sama Rey.
Akhirnya sampai juga aku di tempat shootingnya, setelah menit-menit berlalu di jalanan yang macet abis.
“Maaf, saya telat” kataku.
“Gak apa-apa. Ok, kita mulai shootingnya. Kalian santai aja, kayak orang pacaran benaran juga gak apa-apa.. Kami akan merekam kalian dari jauh, alias kamera tersembunyi..” Jelas Pak Sutradara.
Pertama-tama kami memperkenalkan diri di depan kamera. Selanjutnya kami ditinggalkan berdua saja di taman. Rey mengajakku makan di restoran Sea Food. Aku gugup banget. Menyadari diriku nervous, Rey menggenggam jemariku yang basah oleh keringat dingin.
“Nyantai aja. Anggap aja kita beneran kencan, gak lagi shooting. Ok?!”
Aku menggangguk.
Ternyata Rey sangat jauh dari perkiraan. Di depan kamera ia terlihat cool dan pendiam. Tapi ternyata dia lucu dan humoris. Aku merasa nyaman bila bersamanya. Ternyata dia juga hobi main basket sepertiku, makanya kami nyambung terus ngobrolnya.
Kami jalan seharian. Ke taman, foto box, dan akhirnya ke pantai. Kencannya sangat menyenangkan, sampai-sampai aku merasa seperti Pacaran beneran. Tak terasa waktu kencan telah selesai.
“Wah, kalian top banget! Makasih, Rey dan nona Liby! Ayo, pulang!”
Berat rasanya berpisah dengan Rey. Aku merasa kami udah dekat banget. Ternyata telah tumbuh bunga cinta di hatiku. Namun aku sadar, Rey adalah penyanyi terkenal dan banyak fansnya. Kalo mau cari cewek, tinggal ngelirik salah satu artis-artis cewek yang cantik-cantik. Aku nggak mungkin bisa bersanding dengan seorang ‘BINTANG’.
Rey berpapasan denganku, menyelipkan gulungan kertas di jemariku. Aku membuka gulungan kertas itu, dan ternyata isinya nomor handphone Rey. Tanpa sadar bibirku menyunggingkan sebuah senyuman, dan dalam hatiku bicara,
“Pacaran sama ‘BINTANG’?! Kenapa enggak?!”

THE END

NASEHAT NENEK


“Uh…. Sebel, Sebel, Sebeeel!!!”
Aku membuang bantalku yang berbentuk hati warna pink sambil menggerutu. Aku lagi sebel banget sama nenekku. Beliau cerewet abis. Sering aku mengeluh, kenapa aku harus lahir sebagai cucu dari nenek yang secerewet itu.
Ayah dan ibu lagi berangkat ke luar negeri, makanya aku tinggal sementara di rumah nenek. Padahal aku kan sudah gede, bisa tinggal sendiri. Tapi ibuku yang mungkin sudah tertular “virus” cerewetnya nenek yang memaksaku tinggal di sana.
Sebenarnya aku mengerti, nenek begitu karena dia sayang sama aku. Aku pun sebenarnya sudah terbiasa dengan kecerewetannya. Tapi kali ini aku nggak bisa terima!
Tadi sore, Jeffry, cowok paling terpopuler di sekolahku ngajakin aku dugem malam ini. Siapa coba yang nggak senang di ajak jalan sama cowok sekeren itu?! Dari dulu aku pengen banget berteman, atau bahkan hanya sekedar ngobrol sama dia. Tapi saat kesempatan itu tiba…
“Nggak boleh! Anak cewek nggak boleh jalan malam-malam.” Tolak nenekku ketika aku meminta izin darinya untuk pergi bersama Jeffry.
“Ayolah, Nek! Kesempatan ini Cuma datang sekali seumur hidup. Yuni jamin, deh, nggak bakalan pulang larut malam.” Pintaku dengan amat sangat memelas.
“Pokoknya nggak boleh! Kalo di sana kamu di apa-apain cowok gimana?”
“Mereka semua temanku. Semuanya baik dan nggak ada yang kurang ajar, kok!”
“Kita kan nggak tau dalamnya hati orang itu kayak gimana. Siapa tau di luarnya meraka pura-pura baik, terus minuman kamu di kasih obat, lalu… Aih, nenek nggak tega memikirkannya.”
“Idih, Nenek pikirannya ngeres, deh! Mereka nggak mungkin berbuat sejahat itu. Plis, Nek, sekali ini aja. Plizzzz….”
“Memangnya pestanya nggak akan mulai tanpa kehadiranmu?”
“Nenek nggak ngerti pergaulan sekarang. Kalo Yuni nggak ikut, ntar Yuni di cap sebagai cewek yang nggak gaul! Trus, ntar Yuni dijauhin sama teman-teman. Nenek mau cucu kesayangan nenek ini nggak punya teman?”
“Kalo gitu berarti teman-temanmu itu bukan orang yang baik, hanya melihat orang dari sisi luarnya saja. Lagipula gaul kan tidak harus … apa tadi itu? Bogem?”
“Dugem, Nek!”
Aku terkikik ketika menjawabnya. Masa dugem dibilang bogem?
“Yah, apa saja lah! Yun, ayah dan ibumu itu nitipin kamu ke nenek supaya nenek bisa ngawasin kamu biar kamu nggak macem-macem. Dan nenek harus bertanggung jawab kalo terjadi sesuatu sama kamu.”
Semua alasan telah aku keluarkan, tapi tak satu pun yang dapat menggoyahkan hati nenekku. Ya sudah, aku diam, masuk kamar dan ngambek nggak karuan
***
Semalaman aku nggak bisa tidur Karena memikirkan ajakan Jeffry yang ku tolak dengan sangat terpaksa. Aku rasa ia nggak mungkin akan mengajakku lagi, walaupun saat di telepon tadi malam ia janji akan mengajakku lain kali.
Aku pergi ke sekolah tanpa pamit. Biasanya cium tangan dulu, tapi berhubung aku  lagi ngambek, jadi ku cuekin aja nenek yang lagi asik makan roti bakar dengan lahapnya.
 “Yuni…” panggil Ela, sahabatku, saat melihatku tiba di kelas.
“Hai, La!” Sapaku sambil melemparkan tas di meja dan duduk di sampingnya
“Hei, what’s wrong? Kok pagi-pagi udah kusut gini mukanya? Nggak digosok, ya?”
“Ah, udah, deh, gue lagi bete, nih!”
“Kenapa? Cerita dong! Siapa tau dengan bercerita, bete-mu bisa hilang.”
“Lo tau kan nenek gue? Kemaren itu gue diajak dugem sama Jeffry, tapi gara-gara si nenek cerewet itu, gue jadi kehilangan kesempatan yang amat berharga ini!”
“Jadi maksudnya lo nggak ikutan dugem? Wah, syukur, deh!”
“Lo kok gitu, sih? Temen lagi susah malah di syukuri?”
“Eh, jangan ngambek dulu. Jadi lo belum dengar hot issue hari ini? Jeffry dan kawan-kawan semalam di tangkap basah sama polisi karena pesta nyabu. Mereka juga akan dikeluarkan dari sekolah.”
“APA?! Jangan bercanda, deh, nggak lucu! Kalo iri, bilang dong! Jangan nyebarin isu yang nggak bener!”
“Yah, nih anak dibilangin nggak percaya! Emang tampang gue keliatan lagi bercanda? Lagian gue kan nggak pernah bohong sama lo? Dan ngapain juga iri, gue kan udah punya pacar yang jauh lebih baik daripada dia. Lo sih, terlalu terpesona sama tampangnya doang. Padahal lo nggak tau dalamnya gimana.”
Aku terdiam. Dalam hati aku bersyukur karena aku nggak ikut pesta itu. Kalo aku ikut, pasti aku juga sudah mendekam dalam penjara. Semua ini berkat nasehat nenek. Aku nyesel sudah marah sama nenek.
Sepulang sekolah aku langsung sujud minta maaf di bawah kaki nenek. Nenek yang saat itu sedang bersantai di kursi goyang sambil menikmati kuaci, bingung melihat tingkahku.
“Nenek, maafkan Yuni! Yuni udah ngambek seharian sama nenek, padahal nasehat nenek berharga sekali. Rupanya semalam mereka pesta narkoba. Seandainya nenek nggak melarang, pasti aku sudah ditangkap polisi. Maaf, ya, Nek.”
Nenek tersenyum dan membelai rambutku.
“Nenek mengerti, anak seusiamu memang ingin senang-senang. Tapi semuanya itu ada batasnya. Jangan menangis lagi, sayang, nenek sudah memaafkanmu.”
Ternyata punya nenek yang cerewet asyik juga!

THE END
By : DIAN MEILYANI