Monday, December 20, 2010

Sinetron VS Drama Korea

Beberapa tahun terakhir ini, masyarakat dunia mulai terserang ‘demam drama korea’. Hal ini ditunjukkan dengan rutinnya penayangan drama korea oleh stasiun tv Indosiar, bahkan yang sudah pernah tayang sebelumnya juga sering diulang-ulang sampai bosan. Selain itu, di trans7 juga sempat menayangkan Personal Taste, di NDTV juga pernah menayangkan ulang princess hour, thank you, dll. Di Malang Tv juga pernah menayangkan ulang Lover In Paris, Starway To Heaven, dll. Tidak hanya dari TV, DVD dan CD drama korea juga laris di pasaran. Blog-blog yang membahas recaps sinopsis drama korea juga banyak bermunculan. Dunia sudah kecanduan drama korea – termasuk saya hehehe...
Sebenarnya kenapa drama korea ini begitu diminati? Padahal Menurutku Korean Drama itu sebenarnya biasa saja, sama dengan sinetron Indonesia dan drama-drama Asia lainnya, bahkan ada beberapa kebiasaan dan pakem yang selalu ada, semua tahu-lah, misalnya :
1. Pasti ada 2 cowok, 2 cewek, terlibat cinta segiempat njlimet. Tokoh utama biasanya pasti jadian
2. Selalu ada tokoh cowok yang baik sama si cewek, tapi tidak bisa mendapatkan hati si cewek. Sutradaranya bikin karakter cowok itu sebaik mungkin sampai menarik simpati penonton, bahkan berharap si cewek jadiannya sama cowok itu, tapi akhirnya cowok itu harus merelakan cintanya pergi dengan si pemeran utama. (Ji Hoo-BBF, Jae Shin-SKKS, Shin woo-YB)
3. Awalnya Benci, lama-lama jadi cinta
4. Adegan minum-minum, ngga cowo, ngga cewe. Kalo cewenya mabok, digendong ma cowonya di punggung. (Personal Taste, Still Marry Me)
5. Karokean
6. Ada adegan U-turn yang fenomenal sambil telepon dengan hands-free. (You’re Beautiful, Mr.Goodbye)
7. Pamer teknologi, biasanya handphone merk terbaru dsb. Biasanya satu drama, hp tokohnya sama semua.
8. Kalau si cewek kedinginan, si cowok dengan gentlenya menyampirkan jaket ke tubuh cewek itu.
9. Kalo ceritanya tentang cewe yg nyamar jadi cowo, ketahuannya pasti pas mandi, atau kecemplung di sungai, trus cowonya buka baju si cewe dan… tada… ketahuan deh! (SKKS, QSD, Portrait of Beauty)
10. Dll, bisa di baca sendiri di kadorama-recaps.blogspot.com dan zoladiaries.blogspot.com, atau pikirkan saja sendiri.

Jadi, apa perbedaan drama korea dengan sinetron Indonesia?
Menurutku, drama korea ceritanya tidak bertele-tele dan menjadi diri mereka sendiri, menjual sejarah mereka sendiri, dan budaya mereka sendiri. Mereka memperlihatkan keaslian kehidupan mereka. Sementara sinetron Indonesia episodenya puanjang banget, ngga abis2, bahkan sampai para pemerannya berganti2 dan jalan ceritanya jadi nggak jelas, mbulet. Cuma bagus di awal, tapi akhirnya nggak jelas.
Cerita drama korea juga detail, menjelaskan bagaimana kehidupan para tokohnya, perjuangan mereka untuk mencapai sukses . misalnya usaha Jeon Jin Ho untuk memenangkan proyek, usaha Park Kae In untuk diakui oleh ayahnya. Bagaimana Oh Ha Ni belajar agar ketika menikah dengan Baek Seung Jo, ia adalah pribadi yang tidak memalukan. Bagaimana Go Eun Chan kerja keras mati-matian untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, dan mendapat pengakuan sebagai barista profesional, bahkan diperlihatkan cara membuat kopi yang benar.Bagaimana Seo Jang Geum belajar keras siang malam untuk menjadi Dae Jang Geum. Choi Suk Bong yg meraih sukses dengan keringat sendiri, tidak mengharapkan warisan ayahnya. Mereka giat mengejar impiannya, bahkan rela meninggalkan pasangannya untuk meraih impiannya, misalnya Go Mi Nyu meninggalkan Tae Kyung ke Afrika untuk jadi relawan. Jan Di menolak lamaran Jun Pyo karena ia punya cita-cita jadi dokter dan berharap Jun Pyo meraih sukses dulu, baru ia terima lamarannya, dan masih banyak lagi.

Sementara sinetron Indonesia tidak menjelaskan detil kesuksesan tokohnya, langsung tiba2 jadi direktur dengan jas+dasi plus kantor dan mobil mewah tanpa memperlihatkan bagaimana ia berkeringat lari2 mengejar bis dan kehujanan dengan membawa portfolionya misalnya. Trus selalu ada adegan tiba2 dapat warisan kayak ketiban duren,si antagonisnya ingin merebut harta dengan tindakan2 yg negatif, apakah itu membunuh, menipu, dll, sementara protagonisnya lempeng, pasrah, ga ada usaha untuk bangkit kembali. Tidak seperti dalam drama Korea, adegan saling berebut harta dengan mengeluarkan kemampuan mereka, misalnya Huan dan Eun Suh di Briliant Legacy, saling rebutan harta nenek, tapi masing2 membuktikan kemampuan mereka untuk mendapat warisan itu.
Untuk pemeran antagonisnya di K-Drama, dibalik kejahatannya ada kebaikannya dan mau tobat juga, misalnya di You’re Beautiful mamanya Tae Kyung yg jahat akhirnya minta maaf ma Mi Nyu dan Tae Kyung, Yo He Yi juga jahat tapi sampai dramanya selesai dia masih tetap menjaga rahasia ttg Mi Nyu yg jadi Mi Nam dari si wartawan.
Kalo di sinetron indonesia, antagonisnya jahat banget, sampai matipun tetap jahat, nggak tobat2 dan kayak psikopat. Trus tokoh yg tersiksa pasti ditolong sama peri/sejenisnya, nggak bisa berjuang sendiri u/mengalahkan yg jahat. apa ini cerminan masyarakat Indonesia yang suka serba instan?
Aku pikir, Indonesia juga bisa membuat drama yang tidak kalah dari Drama Korea, asal berani menjadi diri sendiri, tidak terpengaruh gaya india2an, lebih detil dalam cerita atau proses. Yang penting prosesnya, detilnya, dan jangan terlalu bertele-tele. Dan satu lagi, TIDAK PLAGIAT! Oke, memang ada beberapa drama korea yang ceritanya diambil dari film yg pernah ada misalnya BBF dari Meteor Garden, Playful Kiss dari Itazura Na Kiss. Tapi korea mengemasnya secara apik dengan gaya dan budaya mereka sendiri, tidak seperti sinetron yang ceritanya udah ngikut, tapi jelek.
Sampai sekarang, kalau untuk drama Indonesia, belum ada yang bisa menyaingi Si Doel Anak Sekolahan, menurutku itu drama dengan identitas asli Indonesia. Selain itu, FTV yang di SCTV menurutku juga lumayan bagus cerita2nya dan ngga ngebosenin. Kalau film bioskop zaman sekarang isinya kebanyakan horror, kekerasan, dan seks. Cuma ada beberapa film saja yang benar2 bagus dan mendidik, seperti Denias, Laskar Pelangi, Nagabonar, Eiffel I’m in Love, dll. aku juga suka film yg dibintangi Dian Sastro dan Nicholas Saputra, karna film mereka selalu bagus, seperti AADC, Janji Joni, Ungu Violet, dll.
Kalau boleh saran, coba ada sutradara yang membuat sinetron dengan mengangkat cerita dari novel2 di Indonesia yg bagus, misalnya karya Mira W, Agnes Jessica, dll. Karya2 mereka sangat bagus dan orisinil pastinya.

No comments:

Post a Comment